rain of july

RAIN OF JULY

(tugas cerpen Bahasa Indonesia)

Matahari pagi terbit kembali berbagi cahaya pada semesta dan isinya . Padaku juga tentunya, seorang gadis yang bersiap dengan seragam putih abu-abu . Aku Raina, siswi SMA Harapan Bangsa , murid baik-baik yang sederhana tapi menarik , bukan kepedean tapi banyak yang bilang begitu . Dan orang-orang memanggil aku seperti memanggil hujan, Rain .

“Selamat pagi mama . Udah cantik banget pagi-pagi ini .” sapaku pada mama tersayang .

“Pagi sayang . Iya dong, mamanya siapa dulu.. Raina .” seru mama sambil menyeringai lebar.

“Ih mama, sayang deh sama mama”.

Kehidupanku bisa dibilang hampir mendekati sempurna. Aku mempunyai keluarga kecil yang bahagia dengan keadaan ekonomi yang cukup berada, serta kedua orang tua dan adik yang sangat menyayangiku. Di sekolah aku juga mempunyai teman-teman yang bersahabat, disayangi guru-guru dan juga ibu-ibu kantin yang bawel . Dan juga semakin hampir sempurna dengan kehadiran sahabat-sahabat yang sangat aku sayangi . Namun masih ada yang kurang sehingga tidak bisa dibilang sempurna . Aku belum menemukan cinta yang aku tunggu , dan terkadang itu sedikit mengganggu pikiranku . Apa yang salah denganku ?

***

Pagi ini seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan setumpuk semangat yang agak susah payah aku kumpulkan . Aku pergi ke sekolah bersama Reta , sahabatku sejak aku duduk dibangku SMP.

“Rain, tadi malam kamu belajar ? Aku kok malas banget ya akhir-akhir ini , padahal kan semesteran sebentar lagi , UAN juga udah di depan mata . Tapi kok kayanya persiapanku masih belum seberapa ya .”

“Rencananya sih mau belajar tapi ada sesuatu yang agak sedikit membuyarkan konsentrasi.”

“Ciee apaan tu ? cerita dong Rain.”

“Haha mau tau aja , nanti aja ya Reta Sayang”

“Huu , aku tau kok apaan.”

“Yaudah kalo udah tau ga usah cerita ya akunya.”

“Rain ih , jangan gitu dong.”

“Iya sahabatku yang tersayang , tapi kamu juga janji cerita sama aku tentang status twittermu semalam.”

“hmm , oke .”

***

Aku dan Reta tidak sekelas dikelas tiga ini . Sehingga waktu kami untuk saling bertukar cerita agak terbatas . Dan agak sedikit berbahaya untuk hubungan persahabatan kami jika tidak ada saling pengertian dan menjaga komunikasi . Mungkin agak berlebihan , tapi begitulah kenyataannya .

Seperti biasa kami selalu berpisah dilorong koridor sekolah ini, Reta belok ke kanan untuk menuju kelasnya sedangkan aku hanya berjalan terus untuk sampai dikelas yang punya banyak cerita itu . Cerita bersama teman-teman, dan ceritaku bersama seseorang lainnya yang juga mungkin bisa aku sebut sahabat , namun berbeda dengan Reta karena dia adalah seorang cowok , Dimas namanya .

“Oke Rain aku belok ya , selamat belajar . Nanti kalo sempat istirahat kita makan bareng yuk .”

“Sip deh ta, atur aja . Atur duit makannya juga boleh . hehe .”

“Ih itu sih maunya kamu Rain , huu dasar manja.”

“Eits, siapa manja ? kamu tuu , Reta anak mami .”

“Kamu , ga ada urusan !.”

“Kamu ! .”

“Udah ah siapa aja boleh . Eh itu tuh ‘Sahabat’ kamu si Dimas udah gelisah nungguin kamu ga nyampe-nyampe . Takut bener Rainnya hilang . Sana gih cepetan , aku juga ada yang nunggu . hehe .”

“Sahabat nya ga pake penekanan dong mba Reta cantik . ciee yang ditunggu gelisah juga ni . Oke deh . Byee.”

Diujung sana mataku jelas menangkap sesosok yang berdiri tegak tepat didepan pintu kelas . Badannya yang sedikit atletis , tinggi, dan tegap seringkali menjadi pusat perhatian para siswi-siswi yang berwajah standar sampai yang paling cantik di sekolah . Dan seringkali juga aku yang menjadi pusat perhatian cewek-cewek itu saat aku jalan beriringan disamping Dimas yang juga berwajah cakep , manis tepatnya . Sosok itu kini jelas sekali sedang menungguku dan aku menangkap raut kecemasan diwajahnya , aku tau kenapa .

“Rain , lama banget sih nyampenya . Nungguin daritadi nih aku. Ga kasian apa .”

“Kamu juga sih Dim , kan tau kebiasaan aku ngebawel dulu ma Reta, masih juga nungguin . ada apa sih emangnya ? kayanya gawat banget.”

“Iya aku tau, kamu si nona bawel ngeselin !.”

“Biarin , trus kenapa kalo bawel? Kamu juga kenapa masih mau sahabatan ma orang ngeselin? BĂȘte !.”

“Yaa itu karena… .Udah ah ga penting . Gimana nih ulangan kimia , aku ga belajar lagi . Bantuin ya Rain manis imut tapi agak lemot.”

“Kan tadi malam janjinya belajar gimana sih kamu , malas bantuin ah . Udah disuruh belajar juga .”

“Jangan gitu dong Rain . Janji deh kalo kamu suruh belajar , aku bakalan belajar . Ga pake bohong . Sumpah !.”

“Benerean ya Dimas Adiputra Pratama.”

“Iya Raina , hujan sebelum pelangi.”

Tidak ada yang tau bagaimana sosok Dimas sebenarnya . Mungkin dia hanya membuka diri pada orang yang dipercaya . Disekolah Dimas dikenal pendiam dan tidak banyak bicara , tidak humoris dan sangat serius . Sesekali humornya keluar dan itu sering membuat teman-teman kaget sekaligus senang bukan main . Seorang Dimas sedang bercanda , kalimat itu yang sering diucapkan teman-teman . Dan karakternya itu yang justru sangat digilai para cewek , misterius dan membuat penasaran, begitu menurut mereka .

Namun Dimas berubah tiga ratus enam puluh derajat saat berada di dekatku . Dimas tidak seperti Dimas yang mereka kenal , dia gila , dia punya segudang cerita lucu yang terkadang garing , dia punya tawa yang khas, pipi menggembung yang lucu saat tersenyum , dan aksi ala anak umur lima tahun yang berlebihan saat aku bermain dan tidak menuruti maunya . Sangat berbeda sekali dengan apa yang mereka tau dan lihat pada Dimas . Sempat terlintas dalam benakku , apa yang sebenarnya Dimas rasakan terhadapku . Tapi segera ku tepis jauh jauh penaran dan perasaan itu saat seketika hadir dengan mudahnya menyusup pada jaringan otakku saat sedang beristirahat dan tidak tau harus memikirkan apa lagi . Itu merupakan suatu kesalahan dan kututupi itu dengan sandiwara yang sangat rapi sehingga tak satu orang pun termasuk Dimas yang bisa melihat ketidaksempurnaan arti dalam senyumku .

Memotret tingkah polah teman-temanku saat belajar dikelas adalah hobi baruku diakhir tahun masa SMA ini , entah mengapa aku begitu suka mengumpulkan foto mereka semua . Tapi aku sengaja tidak pernah memotret Dimas , aku takut sosoknya tidak hanya terekam dilensa kamera tapi membekas dalam dihati. Aku tidak mau . Karena terlalu asik dengan hobi baruku itu aku sampai tidak mendengar bel yang memekakkan telinga . Dimas datang membuyarkan konsentrasiku lagi untuk yang kesekian kalinya .

“Rain, makan yuk .”

“Mmh , gimana ya , aku sih laper , tapi…”

“Alaah udah nanti sakit perut loh kalo makannya ditunda-tunda . Kan poto-potonya bisa dilanjutin nanti .”

“Iya sih , tapi bukan itu Dim , aku tadi udah janji ma ..”

“Janji nemenin aku makan pas istirahat ini kan . Udah ayok , aku udah laper banget ni .”

Seperti biasa aku tidak bisa menolak pegangan tangan Dimas yang memaksa aku ikut . Aku begitu mau melepasnya dengan kasar , tapi hati ini tidak bisa menepis kalau sentuhan itu sungguh membuat kaki terasa tidak lagi berpijak pada bumi yang bulat ini . Aku senang bisa jadi orang yang tiap hari diminta Dimas untuk menemaninya makan , tapi kali ini berbeda . Aku sudah janji pada Reta untuk makan bersamanya pada jam istirahat ini . Aku takut dia kecewa dan marah . Akhir-akhir ini kami sangat jarang sekali bertukar cerita satu sama lain . Tapi lagi-lagi keinginan untuk bisa menghabiskan waktu bersama Dimas menepis semua kecemasanku terhadap Reta . Aku pikir Reta pasti ga kurang kerjaan mau nungguin aku lama dikantin . Pasti dia udah mutusin untuk makan bareng temen-temennya . Santai aja Rain , Reta pasti ga masalah , begitu pikirku lagi .

***

Makan dikantin pada jam istirahat pertama sama aja cari mati , semua sibuk teriak-teriak mesen makanannya sama ibu kantin yang ga kalah repotnya sama suara bising seperti tawon. Itu suara para siswa sma berseragam putih abu-abu . Pemandangan yang mungkin ga akan kita lihat lagi kalo kita udah lulus sekolah nanti . Aku dan Dimas seringkali menjadi orang yang lucky karena dapat tempat duduk yang lumayan pas , nyaman , dan agak menjorok ke dalam sehingga agak sulit terlihat orang-orang yang lewat . Dan disitu duduk juga beberapa orang yang sepertinya ada sepasang kekasih . Orang-orang itu berbisik melihat kami . Mungkin mereka pikir kami sama seperti mereka yang berstatus pacaran . Agak risih juga sih , mereka ga liat apa tulisan dijidatku ma Dimas , ada tulisannya ni “sahabat selamanya” . Aku pun menyeringai karena khayalan gila tadi .

“kenapa senyum-senyum Rain.”

“Kenapa ya? Bingung juga.”

“Ga jelas . Udah kupesenin tu bakso ga pake mi putih sawinya dibanyakin kan ?.”

“Sipp , paling ngerti deh , haha .”

“Iya dong, emang ada lagi yang aku ga tau tentang kamu?.”

Aku diam dan mencerna kata-kata barusan . Ingin rasanya aku jawab . “Ada Dim , perasaanku kamu ga tau kan.” Tapi aku tau , menjawab seperti itu sama seperti melempar batu ke kaca jendela rumah yang pemiliknya supergalak , punya anjing gila yang sengaja dilepas buat ngejar aku . Intinya cari masalah yang sebenarnya bukan masalah buat Dimas , mungkin .

“Rain , kamu sama Toni gimana ? masih ga jelas ?.”

“Aku malas mikirinnya Dim , udah biar aja sekalian tehambur ga jelas . Males baikinnya .”

“Kok gitu Rain , sayang banget . Kan kalian udah dari lama pacarannya .”

“Aku yang pacaran aja ga repot, kok kamu yang sibuk Dim . Udahlah aku udah lupa kalo pernah jadi pacarnya .”

“Wow, segitu parahnya ya Rain . Ga boleh gitu juga dong.”

“haha iya lah . Maksud aku , aku udah ga mau mikirin lagi . Aku ma Toni udah selesai . Dan aku ga mau ingat-ingat lagi .”

“mmm gitu .”

“Kamu gimana Dim? Apa kabarnya cewek yang kamu incer itu . Kok ga pernah cerita lagi .”

“Yang mana?.”

“Ga usah pura-pura lupa deh.”

“Oh itu , masih inget aja ya kamu . aku aja lupa Rain .”

“Jadi gimana , cerita dong Dimas.”

Dimas cuma tersenyum .

“Idiih ga perlu senyum kamu Dimas jelek.”

“Ga ada yang perlu diceritain.”

“Ah bohong, udah ga mau cerita-cerita ke aku lagi ya Dim?.”

Dimas berubah serius dan diam .

“Masa aku mau cerita ke orang yang lagi aku certain ?.”

Aku diam dan mencerna semuanya lagi . Aku mengerti dengan cepat .

“Hahahahaha becanda aja Raina bawel.”

“Hahaha . lucunya becandaan kamu Dimas pemalas .” Dimas memang sering mengagetkan aku dengan kata-kata dan sikapnya yang nunjukin banget kalo dia suka ma aku . Pernah terpikirkan kalo Dimas memang suka dan sayang sama aku melebihi sayangnya seorang sahabat . Tapi aku takut mikirin itu terlalu jauh . Selalu kuhapus memori itu dan kutekankan pada diriku sendiri kalo Dimas ga akan pernah suka sama aku , dan kami memang akan menjadi sahabat selamanya , sekali lagi , untuk selamanya dan itu ga akan pernah berubah .

“kriiiing, kriiing….” bel tanda istirahat sudah selesai pun berbunyi nyaring hingga sedikit menyakitkan telinga siapa saja yang mendengarnya . Aku dan Dimas bergegas menuju kelas , kami takut terlambat masuk karena guru fisika yang satu ini terkenal galak . Diperjalanan menuju kelas aku berpapasan dengan Reta , Dimas terus saja melangkah sedangkan aku berhenti sejenak menunggu Reta berhenti tepat di depanku dan menjelaskan kenapa aku tidak bisa menepati janji untuk makan bersama tadi . Tapi yang terjadi sungguh diluar dugaan , Reta memang berhenti tepat didepanku . Tapi dia tidak mengucap satu patah kata pun , hanya diam dan memandangku dengan wajah yang sangat kecewa , marah , kesal , dan mimik bertanya-tanya apakah aku memang benar-benar orang yang disebutnya sahabat selama ini .

“Reta , aku minta …”

“Aku ga percaya kalo bisa begini sama aku . Ini bukan yang pertama kalinya kamu ingkar janji.” Reta menghakimi aku dengan wajahnya yang membuat aku sangat merasa berdosa .

“Iya ini memang bukan yang pertama , aku minta maaf. tapi harusnya kamu ngerti dong.”aku membela diri .

“Ohh jadi selamanya harus aku yang ngertiin kamu , dan kamu ga akan pernah mau ngertiin aku !. “ Reta semakin kalap dalam kemarahannya .

“Bukan gitu Reta , tolong jangan kaya anak kecil .. .”

“Aku ga tau benar apa salah kalo aku nyebut kamu sebagai sahabat selama ini.” Volume suara Reta menurun tapi dengan kata-kata yang menyakitkan buatku .

“Reta plis , jangan gini sama aku .”

“Udahlah urus sana sahabatmu yang lain , aku bukan lagi sahabat selamanya buat kamu . Terlalu banyak kekecewaan yang aku pendam selama ini ke kamu Rain . Mungkin ini puncak dari kesabaran yang terus aku jaga .” Reta berjalan meninggalkan aku sambil menitikkan air mata .

“Reta , tunggu ! Reta !.” aku berusaha mengejar Reta sambil setengah berteriak dan dengan air mata yang dengan susah payah aku tahan agar tidak tumpah keluar dari lensa mata yang sudah berkaca-kaca ini . Tapi aku tidak berhasil mengejarnya , kemarahan Reta membuatnya berjalan sangat cepat sehingga sulit buatku untuk mengejar .

Aku berjalan gontai menuju kelas , aku tau ini adalah masalah terbesar yang pernah aku dan Reta alami . Reta tidak pernah semarah ini padaku . Aku takut sekali , sangat takut . Dan rasa takut itu kini menjelma menjadi api kemarahan yang luar biasa . Aku marah pada orang yang membuatku merasa terbang ketika berada disampingnya . Aku sangat marah pada Dimas . Dia yang mebuatku sedikit melupakan bahwa aku juga punya seseorang yang sangat berarti di hidupku , Reta . Dadaku sesak menahan amarah dan air mata . Langkahku berat membawa tubuhku yang lemas ini masuk ke dalam kelas dan harus melihat wajah Dimas yang seperti tidak berdosa . Tapi aku beruntung karena guru galak belum masuk ke kelas .

“Rain, lama banget . Kirain lupa kelasnya dimana.”Oceh Dimas dengan wajah datar tanpa ekspresi . Dan aku hanya diam , sibuk mengatur suasana hati yang kacau .

“Rain , kok diam aja ? ada apa ? mukamu pucat banget tuh . ada apa Rain ?.”Dimas terlihat sangat cemas sekali . Tapi aku justru merasa semakin marah padanya , entah kenapa .

“sebaiknya mulai sekarang kamu diam dan jangan ngomong sama aku lagi .” aku berkata pelan tapi begitu mengena .

“Tapi aku salah apa Rain ?.”

“Kamu salah ! Kamu menarik aku terlalu jauh ke hidupmu !.” Aku tau percuma aku berkata seperti itu Dimas pasti masih sangat bingung .

“Rain , tolong jelasin sejelas-jelasnya ke aku . Aku minta maap.” Dimas memohon .

“Jangan bicara lagi sama aku Dimas . Mulai hari ini aku mau kita seolah ga pernah saling kenal.” Aku berkata dengan sangat tegas sekali , dalam suaraku sangat jelas tergambar kemarahan dan kesedihan yang teramat sangat .

“Tapi Rain , aku ga bisa .” Suara Dimas begitu menghenyakkan diriku , tapi aku tidak mau peduli . Aku pergi meninggalkannya dengan merekam suara terakhir Dimas yang sangat menyayat hatiku . Ya , itu percakapan terakhir kami , karena setelah itu aku dan Dimas tidak pernah lagi saling menyapa , untuk saling bertemu mata saja berat . Dan aku sadar kalo aku kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam hidupku .

Matahari di siang itu pun seolah ikut memusuhi seorang Rain yang kehilangan kesempatan untuk membiaskan warna-warna pelangi dalam hidupnya . Rain tidak lagi menjadi hujan sebelum pelangi yang indah yang muncul menghiasi kanvas putih diatas langit biru .

***

Tiga bulan setelah kejadian itu , akhirnya tiba malam promnight yang ditunggu-tunggu siswa SMA Harapan Bangsa. Aku sekarang tidak begitu merasa sendiri lagi , karena dalam tiga bulan itu aku berhasil memperbaiki hubungan persahabatan dengan Reta . Aku ingat pada suatu malam , aku datang kerumah Reta , dan membawa barang-barang kenangan kami . Disitu Reta luluh dan mau memaafkan aku yang sudah bersikap diluar batas wajar untuk menjaga hubungan persahabatan .

“Aku tau kamu pasti datang kesini Rain .”Reta membuka percakapan di malam itu .

“Iya ta , aku ga tahan lama-lama kamu diemin , kamu lewatin gitu aja kaya orang ga pernah kenal .”

“Kamu kira aku mudah bersikap begitu ke kamu Rain ?.”
“Aku minta maaf ta , aku mau kita baikan lagi kaya kemaren dan dulu-dulu . Aku ga sanggup nerima kenyataan kalo harus memang jadi mantan sahabatmu , jadi orang yang kamu delete dalam memory-memory favorit kamu .”Kali ini kubiarkan bulir air mata yang menggenang dipelupuk mengalir pasti membasahi rona pipi .

“Hahahahaha.” Reta tertawa nyaring sekali . “Aku udah maapin kamu udah dari lama kali Rain , Cuma aku gengsi aja gitu mau nyapa kamu duluan . Masa harus aku lagi yang ngalah sih , ahahahaha .”

“Hahaha sialan ! dasar manja . Aku sayang kamu Reta , sahabatku tersayang .”

“Aku juga Rain.” Dan kami pun saling berpelukan melepas rindu yang selama ini kami tahan .

“Eh Rain , Gimana sama Dimas ? masih ga teguran?.”Reta mulai mengintrogasi diriku yang masih kesenangan .

“ehm , orang itu . Ga tau ah , biarin aja sampe lulus nanti ga teguran kaya gini .”

“Ga boleh gitu donk Rain , nyakitin diri sendiri itu namanya .”

“Haa , nyakitin diri sendiri ? maksudnya apaan tu ta ?.”

“Halaah , kaya aku ga tau aja . Kamu sebenarnya punya rasa kan sama si Dimas . Dia juga tuh kaya ada something gitu ke kamu . Beda aja gitu .”

“Duh Reta jangan bikin aku geer donk aku udah susah payah ni biar bisa ngatur perasaan supaya ga ada rasa yang macam-macam ke Dimas .”

“Perasaan dan cinta bukan kita yang atur . Udah ada skenarionya kali Rain . Kita tinggal meranin aja baik-baik , mutusin mau yang happy ending , gantung , atau sad ending .”

“Jadi aku harus gimana Reta ?.”

“hmm hati orang siapa yang tau , mana tau kalo selama ini dia juga berharap lebih sama kamu . Kalo kamu berani dan alam memang mengijinkan , semua ini pasti akan terungkap kok Rain.” Senyum Reta malam itu membawa ketenangan yang luar biasa .

***

Dan berkat Reta aku tau harus memutuskan apa untuk akhir cerita sma ku . Malam prom ini aku putuskan untuk memberitahu pada Dimas apa yang aku rasakan selama ini ke dia , orang yang aku sebut sahabat . Aku tidak mengaharapkan happy ending seperti kebanyakan film yang aku tonton, aku cuma tidak mau membawa mati perasaan yang kupendam . Aku harus bilang , apapun yang Dimas pikirkan tentang aku , toh aku tidak menginginkan perasaan ini , Sang Sutradara semesta alamlah yang mengkehendaki aku , jadi aku bisa apa .

Disuatu sudut sebuah ballroom hotel yang cukup luas . Aku berdiri disamping orang yang sangat aku rindukan, Dimas . Dia terlihat lebih dewasa tiga bulan terakhir ini . Dan kini dia sedang memandangi aku dengan raut yang sama sepertiku , raut kerinduan yang dalam .

“Rain , apa kabar ?.” Dimas membuka suara.

“Tiap hari kan kamu liat aku dikelas Dim.” Jawaban terbasi yang keluar begitu aja dimomen yang kurang tepat menurutku .

“Iya , tapi aku ga tau kabarmu . Kamu lewat-lewat begitu aja didepanku . Agak miris .”

“Maapin aku ya Dim , harusnya waktu itu aku ga kaya anak kecil .” Aku memandangi Dimas .

“Harusnya aku yang minta maap Rain . Maapin aku ya .”

“Iya sama-sama. Dim, salah ga kalo ternyata …”

“Rain , aku selama ini suka sama kamu , aku sayang , sayang melebihi seorang sahabat yang sering kita ucapin.”

Kata-kata Dimas barusan sukses membuatku seperti ada ditengah terik matahari gurun pasir .

“Aku juga barusan mau ngasih tau hal yang sama Dim , tapi aku kalah cepat .” aku tersipu malu .

“Aku tau kamu mau bilang gitu ke aku . Tapi aku mau kamu lebih dulu mendengar pengakuanku , confession of a friend . Aku mau kamu tau kalo aku udah punya perasaan itu lama sebelum kamu sadar kalo kamu juga punya perasaan yang sama .” Dimas meraih tanganku lembut.

“Tapi kan kita sahabatan Dim.” Aku menyambutnya dan kami saling berpegangan erat .

“Iya , sampul kita memang sahabatan , tapi hati kita bicara lebih Rain.”

“Oke kita terusin sampul kita aja dulu ya Dim sampe aku bener-bener siap jadi pacar kamu.” Aku menyeringai lebar .

“Hahahaha , oke . But now , you’re my rain , rain of july .”

“Hmm , selamat tinggal masa sma , sampai jumpa dimasa yang lain ya Dim.”

Bulan ini adalah bulan yang membahagiakan ,Bulan july . Tanpa diduga ternyata ceritaku berakhir happy . Aku lulus dengan nilai yang baik , kembali bersahabat dengan Reta sahabatku tersayang, dan kenyataan bahwa ternyata Dimas juga merasakan hal yang sama denganku . Aku memang belum mau untuk mempunyai hubungan yang lebih dengan Dimas . Aku masih mau mengganti waktu kami sebagai sahabat yang terbuang selama tiga bulan terakhir ini . Dan aku sangat beruntung karena bisa menjadi ‘Rain of July’ buat Dimas . Rain yang bisa menentramkan hati , Rain yang selalu mengawali hadirnya warna-warni pelangi dihidup siapa saja , khususnya Dimas . Terima kasih Sang Sutradara semesta alam karena telah begitu baik pada Raina .

***

Karya : Sabrina

*maaf kalo bahasanya sedikit membingungkan , sedikit alay , alur tehamburan . haha ga bakat nulis , jadi yaaa acakadut gini jadinya :P

0 Comments:

Post a Comment