28 november 2011 .
sore basah di jakarta selatan , pondok labu .
ga tau kenapa pasti deh hujan kalo pas aku bangun tidur siang . suasana jadi super duper melow dramatis . dan aku jadi sangat sangat kangen balikpapan , kangen rumah :(
aku ga tau harus mulai darimana untuk memulai postingan blog tercintaku sore hari ini . banyak pengalaman yang aku dapat dari hidup sendiri di ibukota yang keras tempat aku tinggal sekarang. gimana caranya survive dengan alasan ga mau merepotkan orang tua , gimana caranya survive dikeadaan yang serba terdesak, gimana caranya survive tanpa ada seorang pun yang bisa memback up aku langsung, gimana caranya survive untuk menutupi keadaan yang sebenarnya tidak "baik-baik aja" ini . gimana caranya untuk survive menjemput dan membawa pulang impian ? . semangat sab !!! :D
tapi ada satu hal yang kadang aku susah buat bertahan . aku susah buat menang sama perasaan sendiri . mungkin bahasan kali ini agak banyak menyimpang dari bahasan awal . ga tau kenapa , belakangan ini aku sering banget nangis , dan itu ga seorangpun tau .
aku ngerasa lebih sering dibuat nangis , jahat sih emang pikiranku yang kaya gini . tapi emang ini yang aku rasain . kalo kamu mau tau ? aku kangen sekangen kangennya sama kamu yang dulu . aku sebenarnya juga bingung sama apa yang aku tulis sekarang . mungkin aku nangis karena terlalu kangen ? iya mungkin itu . aku kangen sama keadaan yang dulu . aku terlalu kangen kamuu ....
aku sama sekali ga masalah sama marah marahnya kamu kalo aku ga dengerin apa yang kamu omongin . aku malah seneng tau , itu kan berarti kamu sayang , kamu masih perhatian . jangan hilang ya yang kaya gitu , aku masih hauus semuanya :')
gitu juga aku, aku masih pengen banget bangetan merhatiin kamu , ngingetin kamu ini itu , jadi pendengar keluhan kamu .aku masih mau jadi satu satunya cewe (re:selain mama kamu) yang tau semua keadaan kamu , yang tau semua susah senangnya kamu , yang bisa selalu kamu bagi untuk suka dukanya kamu . aku masih dan selalu mau ada diposisi kaya gitu :)
oke , sekian .
aku harus mandi , padahal sorenya pondok labu lagi dingin ini .
semoga aku baik baik aja .
SURAT DARI CALON PASIENKU
Terdiam dalam sunyi. Ku tatap tumpukan handout yang mau tidak mau harus kubaca malam ini.
‘Kenapa baru malam ini?!’, tanya hati kecilku sedikit marah. ‘Ya mau gimana?! Agh! Jangan Protes terus!’, jawab hati ku ntah dari sisi yang mana.
Ramai.. dan hatiku berperang..
Otakku kelu. Hanya sanggup menatap dari jauh percakapan sengit hati-hati ku.
…
Dan…, sebuah benda asing bernama penyesalan mampir mengetuk pintu hatiku, penyesalan dengan spesies memilih jurusan..
‘Buat apa dia datang?’
Fiuh… Ya.., tak lain dan tak bukan adalah memancing amarah tuk keluar dari tempat semedinya. Namun, otakku yang sedari tadi kelu, bangkit bak disambar petir dengan gaya otoritasnya, memerintah tangan membuka sesuatu yang tersentuh oleh mata.
…
Surat
Lembar sebuah surat
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Selamat pagi calon dokterku :) Mengapa pagi ini engkau terlihat lesu? (bagaimana jika aku memanggilmu caldokku? Tidak keberatan kan? :))
…
Hm..aku dengar pelajarannya berat ya? Dan banyak juga ya? Dan apa lagi ya? :D
Maafkan aku caldokku, karena engkau harus belajar keras demi aku :(.. calon pasienmu..
…
Tapi
wahai calon dokterku…
Tahukah engkau..
Menjadi dokter adalah pilihan yang hebat..
Karena ia begitu mulia dan sangat berharga dimataku..
Segala talenta terpatri dalam jiwanya
Mulai dari konumikasinya yang menghangatkan jiwa,
Keahlian seorang detektif dalam diagnosanya,
Jiwa seorang guru yang memberi pengertian pada pasiennya,
Kemampuan persuasifnya..
Kesabaran, kegigihan, keuletan, dan tanggungjawab yang diembannya…
Sifat rela berkorbannya, keikhlasannya.. dan masih banyak lagi yang tak bisa ku sebutkan..
Terima kasih calon dokterku, karena saat ini, engkau belajar, memahami, mencerna dan mencari segala sesuatu di kedokteran hanya untukku.. calon pasienmu..
Waktumu dalam belajar, berorganisasi membentuk karakter, berlatih mengasah skill, engkau lakukan demi aku kelak, calon pasienmu..
Tenagamu engkau sumbangkan, lelahmu dalam belajar selalu berusaha engkau tekan, kantukmu engkau lawan..
Dan semua engkau lakukan hanya untuk memberikan yang terbaik bagiku.. pasienmu kelak..
Sungguh caldokku, aku tidak tahu harus membalas apa.. sungguh mulianya dirimu… dan ku yakin engkau akan berkata ‘tidak, tidak usah dibalas, dan saya hanya manusia biasa, Sang Pencipta yang berkuasa’ :)
Aku di sini selalu berharap engkaulah yang dipilih Sang Pencipta untuk merawatku kelak, layaknya seperti manusia, ketika aku sakit, ketika aku membutuhkan semangat untuk hidup, dan ketika aku butuh akan perhatian..
Maka dari itu, tersenyumlah.. Aku senang melihatmu tersenyum..:) karena dengan senyummu saja sakit yang kurasa bisa sirna :D
…
Calon dokterku,
Sudah terlalu banyak dokter yang tidak mengerti tugasnya, melupakan hatinya, dan tidak mengakui bahwa betapa mulianya ia..
Dan karena itu lah aku selalu menunggumu karena aku percaya kelak engkau tidak seperti mereka
Dan karena aku percaya engkau adalah seorang dokter yang berbeda..
Seorang dokter yang akan menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati
Seorang dokter yang selalu berusaha sekuat tenaga demi keceriaan pasiennya meski Yang Maha Kuasa menggariskan sesuatu yang bernama takdir padanya.
Aku ingin segera memanggilmu dokter. Dan bukan caldok lagi. Bukankah engkau juga ingin segera mendengarnya? :) Namun, aku mengerti pelajaran itu tidaklah semudah yang mereka bayangkan, maka berjuanglah caldokku.. aku.. calon pasien pertamamu.. akan selalu menantimu..
Aku akan terus memohon kepada Yang Kuasa agar dapat bertemu denganmu dan mewujudkan impianku untuk menyapamu ‘dokter…’ di ruang praktekmu, pagi itu… :)
Ttd.
Calon Pasien Pertamamu- Ibu yang selalu merindukanmu :)
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Semangat Kolegaku! Banyak orang yang telah menunggu kita sebagai dokter yang profesional.
Jangan menyerah! Mari berjuang bersama dan saling mengingatkan.
Setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Hanya saja kita butuh kesabaran untuk mencapainya.
“Jika matahari ibarat kesulitan dan hujan ibarat kesuksesan maka kita butuh keduanya untuk melihat pelangi”
Semangat!
by : Adilah Ulfiati FKUB 2010
